Pria, Uang dan Wanita

Tentu tulisan ini tidak bermaksud untuk menekankan pada gender apalagi sampai menentukan pihak mana yang harus lebih dominan ketika membicarakan tentang uang. Realita yang ada didepan mata akan dengan sendirinya berbicara bahwa dalam kehidupan sehari-hari, baik itu pria maupun wanita, mau tidak mau dan suka tidak suka, akan selalu berhubungan dengan uang dan pertanyaan klasiknya adalah bagaimana mencari tahu hubungan yang paling ideal antar ketiganya?

Agar lebih netral, sehubungan dengan tema ini, mari kita bahas terlebih dulu tentang uang-nya itu sendiri. Jika membahas definisi pasti sudah berada di luar kepala (baca: mengerti) semua dong tentang apa itu uang. Lalu, pernahkah anda mendengar anonim yang mengatakan “uang tidak bisa membeli segalanya, apalagi tidak ada uang”?. Nahhh inilah salah satu jawaban kenapa uang menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia atau bagi pria dan wanita secara khususnya. Dengan nalurinya untuk mempertahankan hidup dan akan selalu dihadapkan pada era yang semakin modern, tentu kebutuhan akan konsumsi dan pemenuhan gaya hidup yang memerlukan transaksi dengan menggunakan uang telah menjadi hal yang umum dan biasa dilakukan oleh pria dan wanita sehari-hari.

Pada dasarnya, bagi pria dan wanita dalam hubungannya dengan uang tidak akan terlepas dari ‘warisan’ pandangan terdahulu yang tetap akan ada di tengah-tengah masyarakat. Sebagai ilustrasi, dengan bertambahnya usia, maka para pria-lah yang biasanya akan dihadapkan pada kewajiban untuk mencari uang secara mandiri. Kini, seiring berjalannya waktu, ‘budaya’ tanggung jawab ini perlahan mulai bergeser karena para wanita pun juga mulai merasakan perlu untuk memiliki kemandirian dalam hal keuangan. Begitupun sebaliknya, apabila membicarakan tentang tanggung jawab pengelolaan uang ketika sudah berumah tangga, kebiasaan dalam hal menyerahkan dan mempercayakan penuh 100% terhadap wanita juga sudah mulai tergerus dan sekarang kebanyakan masing-masing pria dan wanita yang telah berumahtangga juga memiliki anggaran sendiri untuk kebutuhan di masa mendatang. Hal ini bisa diartikan bahwa saat ini posisi pria dan wanita dalam kaitannya dengan keuangan sudah bisa dikatakan setara dan seimbang. Lalu apakah berarti sudah selesai permasalahan seputar keuangan bagi keduanya? Tentu naif banget ya kalau jawabannya adalah sudah selesai.

Kesetaraan dalam beberapa cara pandang tersebut tentu bukanlah sesuatu yang mutlak karena baru sebatas dilihat dari sisi positifnya. Yang perlu dicari tahu lebih jauh oleh para pria dan wanita saat ini adalah potensi akan adanya sisi negatif dari sebuah sisi positif yang sudah ada. Sebagai contoh, sisi positif dari seorang wanita apabila telah bekerja dan menghasilkan uang secara mandiri adalah potensi adanya double income apabila si wanita pada akhirnya menikah dengan pria yang juga telah bekerja. Namun, apabila salah satu dari pria ataupun wanita ternyata lengah dalam mengawasi uang masuk dan keluar (cash flow) rutin bulanan yang ada dikarenakan tidak adanya rasa kepedulian atas masing-masing pemasukan, maka dapat dipastikan income yang dihasilkan dari dua sumber tersebut akan berakhir sia-sia. Atau bisa juga dengan adanya penghasilan dari salah seorang pasangan, nantinya bisa itu pria ataupun wanita-nya malah akan merasa cuek dan menggantungkan pengeluaran atas tanggung jawab yang ada kelak (anak) kepada salah satu pasangannya. Ini lebih berbahaya lagi karena dapat menjadi bom waktu bagi keseluruhan anggota keluarga pada nantinya.

Dengan demikian, sebenarnya kesetaraan antara pria dan wanita terhadap keuangan saat ini bukan hanya terletak pada sisi bagaimana keduanya dapat menghasilkan income. Lebih jauh lagi,..

(Klik di sini untuk membaca kelanjutannya)

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*